Seirei Gensouki: Spirit Chronicles Volume 2 Chapter 1 Part 1

Dibaca 92 orang
Font Size :
Table of Content
Dark Mode
Perhatian
Butuh bantuan lur! ga kuat sendirian, bisa pm fanspage FB atau ke halaman kontak

Penerjemah: niznet
 Penyunting: –
 Korektor: – 


Volume 2 Chapter 1 – Perjalanan ke Negara Tetangga Part 1

Keesokan pagi setelah perpisahannya dengan Celia di Akademi Kerajaan, Rio berjalan keliling pasar di luar dinding kota untuk mengumpulkan peralatan perjalanannya.

Dia membutuhkan makanan, air, alat-alat masak, pakaian, kasur, obat-obatan, senjata… Manusia jelas butuh banyak kebutuhan untuk hidup. Tapi karena ada batasan berapa banyak yang bisa ia bawa saat melakukan perjalanan sendirian, Rio harus berhati-hati dalam mengatur kebutuhannya dan membeli hal-hal yang paling di perlukan nantinya.

Saat ini, dia hanya punya pakaian khas bangsawan, serta sebilah pedang yang kelewat ringan sehingga nyaman digunakan saat perjalanan nanti.
Sejak Rio masuk Akademi, dia menghabiskan waktu-waktunya di dalam dinding kota. Meskipun Celia pernah mengajaknya ke pasar-pasar yang berada di dalam dinding kota, ini pertama kalinya menjejakan kaki di pasar yang berada luar dinding kota.

Dia agak bingung sekarang.

Aku tidak tahu harus ke toko mana…

Dia sudah berkeliling beberapa toko, tapi jumlahnya masih ada banyak lagi. Beberapa di antara mereka ada yang menjual produk-produk yang dibuat dengan kasar sehingga membuatnya sering mengerutkan dahinya. Karena dia ingin membeli barang-barang berkualitas yang bisa bertahan lama, dia tidak mau asal pilih toko yang ingin dia beli. Setelah berjalan-jalan di tengah keramaian sambil merenungkan ini dan itu, dia merasa Lelah dan melangkah ke gang kecil untuk beristirahat sebentar.

Di saat itulah tercium aroma lezat seketika menggugah selera makannya, aroma itu berasal dari sebuah kedai di jalanan gang.

Tidak banyak pelanggan saat itu— mungkin karena di tengah-tengah waktu antara sarapan dan makan siang, atau mungkin karena lokasinya yang terpencil— tapi aromanya sangatlah enak.

Kalau dipikir-pikir, aku belum sarapan. Aku akan beli sesuatu dari kedai itu dan meminta rekomendasi toko dari mereka.

Di dorong oleh rasa lapar, Kaki Rio membawanya menuju kedai. Seorang gadis kecil yang berada di belakang konter terlihat agak bosan dengan sepinya pelanggan. Di belakangnya, ada seorang wanita yang sepertinya adalah Ibunya sedang sibuk memasak.

“Ah, selamat dating!”

Saat Rio tiba di kedai itu, si gadis kecil tersenyum dari kuping ke kuping dan menyambutnya. Usianya pasti sekitar tujuh atau delapan tahun. Dia sangat cantik kalau saja sedikit kurus.

Tapi, begitu dia melihat pakaian bangsawan Rio, ekspresinya mengkaku. Dia pasti salah sangka menganggapnya sebagai anak bangsawan.

Di Kerajaan Beltrum, dimana status sosial menjadi pondasi, jadi sangat umum bagi bangsawan untuk berlaku kasar kepada rakyat. Itulah kenapa rakyat biasa takut pada bangsawan. Gadis kecil ini mungkin mempelajari sentimen itu dari ibunya.

“Eh, emm, Maksud saya…” Sadar kalau dia tidak boleh berperilaku tidak sopan, si gadis kecil itu memasang senyum paksa di wajahnya.

“Kau tidak perlu gugup. Aromanya sangat enak disini… Apa kau menjual sesuatu?” Rio berbicara dengan lembut untuk menyakinkannya.

“Emm, roti dengan saus dan sayuran beserta daging goreng di dalamnya, pak.” Gadis itu berbicara sesopan mungkin pada Rio.

“Baiklah. Kalau begitu, aku akan membeli beberapa.” Rio tersenyum lembut, dengan antusias mengungkapkan keinginannya untuk membelinya.

“Astaga, apa ada bangsawan? … Huh? Eh, emm…” Sang ibu menyadari keberadaan Rio dan segera menyambutnya, tapi matanya terkesima dramatis saat melihat wajah Rio.

“Apa ada masalah?” Tanya Rio yang bingung.

“Ah, tidak… tidak apa-apa. Saya minta maaf atas ketidaksopanan saya.” Dengan takut wanita itu meminta maaf karena perilakunya yang aneh, tapi dia masih terus memandangi Rio dengan mata yang mengamati.

“Oh, apa itu tentang warna rambutku?” Rio menebak alasan terhadap perilakunya yang aneh membuat wanita itu kaget, merambai rambutnya dengan tangan. Rambut hitam sangatlah langka di Beltrum; dia sering di ejek oleh murid-murid akademi karena rambutnya.

“Emm, Oh… Ya. Sebenarnya saya dahulu kenal seseorang lelaki dengan rambut hitam. Jadi saya berpikiran seperti itu mungkin… Tapi tidak mungkin anak itu adalah seorang bangsawan, jadi ini kesalahan saya. Sa-Saya tidak tahu bagaimana saya bisa meminta maaf cukup kepada anda atas…”

“… Bolehkah aku tahu nama laki-laki itu?” Tanya Rio ke wanita yang gemetaran. Dia terus menundukkan kepalanya karena takut. Mungkin dia seseorang yang aku kenal dulu saat masih tinggal di daerah kumuh.

“K-Kalau tidak salah namanya adalah Rio…”

Tepat—Ternyata Rio pernah bertemu dengan wanita cantik ini sebelumnya.

Sayangnya, Rio saat ini dalam pelarian dan tidak bisa memastikan kecurigaan wanita itu dengan enteng. Kalau dia salah sangka menganggap dia adalah seorang putra bangsawan maka itu keuntungannya.

“Maaf, saya tidak tahu nama itu.”
“Begitu… kah…”

Rio memutuskan untuk berpura-pura tidak tau dan wanita itu menunjukkan kekecewaannya.

“Apa kau mencari anak itu?” Tanya Rio. Dia tidak bisa mengingat kapan dia pernah bertemu dengan wanita ini sebelumnya.

Kalau harus menebak, dia akan menduga gang yang preman di dalamnya daerah kumuh ia tinggali. Kalau benar, kemungkinannya signifikan lebih kecil. Kalau seseorang yang mengenalnya cukup baik untuk mengingat namanya, maka kemungkinan besarnya adalah salah satu orang yang sering mengunjungi rumah kecil Rio dulu. Sebagian besar wanita yang sering datang ke rumah itu merupakan pelacur yang di pesan oleh para preman. Yang paling mereka sukai adalah Gigi, yang dibunuh di rumah dan adik perempuannya Angela. Ada beberapa lainnya juga yang mereka sukai. Dan Rio menebak kalau wanita itu salah satunya.

Meskipun sudah lima tahun lebih sejak terakhir kali ia melihat mereka. Wanita yang ada di depannya tidak memakai make-up sama sekali yang membuatnya tidak memiliki hawa seperti pelacur sehingga membuatnya sulit untuk menganggap dia seperti itu.

“Hanya saja dia mungkin menyaksikan saat-saat terakhir kakak saya.” Ekspresi wanita itu berkaca-kaca sembari berbicara. Si gadis kecil itu terlihat bingung pada percakapan mereka.

tags: baca novel Seirei Gensouki: Spirit Chronicles Volume 2 Chapter 1 Part 1, web novel Seirei Gensouki: Spirit Chronicles Volume 2 Chapter 1 Part 1, light novel Seirei Gensouki: Spirit Chronicles Volume 2 Chapter 1 Part 1, novel Seirei Gensouki: Spirit Chronicles Volume 2 Chapter 1 Part 1, baca Seirei Gensouki: Spirit Chronicles Volume 2 Chapter 1 Part 1 , Seirei Gensouki: Spirit Chronicles Volume 2 Chapter 1 Part 1 manga, Seirei Gensouki: Spirit Chronicles Volume 2 Chapter 1 Part 1 online, Seirei Gensouki: Spirit Chronicles Volume 2 Chapter 1 Part 1 bab, Seirei Gensouki: Spirit Chronicles Volume 2 Chapter 1 Part 1 chapter, Seirei Gensouki: Spirit Chronicles Volume 2 Chapter 1 Part 1 high quality, Seirei Gensouki: Spirit Chronicles Volume 2 Chapter 1 Part 1 manga scan, ,
Table of Content

Tinggalkan Komentar untuk Dukung Kami!

avatar
  Ikuti  
Notify of