Seirei Gensouki: Spirit Chronicles Volume 2 Chapter 1 Part 3

Dibaca 75 orang
Font Size :
Table of Content
Dark Mode
Perhatian
Butuh bantuan lur! ga kuat sendirian, bisa pm fanspage FB atau ke halaman kontak

Penerjemah: niznet
 Penyunting: –
 Korektor: – 


Volume 2 Chapter 1 – Perjalanan ke Negara Tetangga Part 3

“… Itu bukan aku, kau salah orang, Aku harus pergi ke suatu tempat.” Rio hampir bimbang sesaat sebelum mengelak topiknya. Tapi pria itu melangkah ke depan menghalanginya dengan berani.

“Tunggu… sabar dulu. Baru saja ada poster buronan di papan pengumuman untuk bocah bernama Rio. Menjadi seorang makelar informasi tentunya bakal sadar lebih duluan dari pada yang lain.”

Selagi dia berbicara, pria itu mendekat padanya dengan mata menatap langsung ke wajah Rio. Rio menghapus semua jejak emosi dari wajahnya dan menatap balik ke pria itu.

“Kenapa diam saja? bicaralah”

“Maaf. Aku merasa ocehan sampahmu hanya menghabiskan waktuku saja. Langsung saja apa kaitannya denganku?” Tanya Rio dengan nada tenang sembari menahan amarahnya yang meluap. Pria itu tersenyum jahat.

“singkatnya, perawakan si bocah buronan itu cocok dengan mu. Kau tadi memakai pakaian bangsawan, jadi aku tidak bisa seenaknya bicara padamu, tapi kau sekarang berganti ke yang tidak menarik perhatian orang-orang. Jadi sebagai makelar informasi, semuanya menjadi lebih jelas. Itulah kenapa aku berbicara padamu.”

“Kau salah orang.” Balas Rio dengan cepat mengelak dugaannya.

“Jangan berpura-pura. Tak banyak bocah berambut hitam di sekitar sini. Kau Rio, kan?”

 “Bukan,” Tolak Rio, kemudian mulai melangkah menjauh. Tapi pria itu berlari menghentikannya.

“Oi, tunggu!”

“Lepaskan.” Tatap dingin Rio ke arah pria yang meraih bahunya dengan akrabnya.

“K-Kau ini keras kepala sekali ya?”

“Itu karena kau salah orang.”

“…Tch, betapa liciknya kau bocah. dah lah. Tapi hei, kau sepertinya sedang banyak duit. Berapa banyak yang kau punya?”

 Itu hanya satu dari pertanyaan demi pertanyaan. Pria itu terus berkata tanpa henti, tapi Rio menemukan motifnya dari kata-kata terakhirnya.

Tujuannya adalah pemerasan.

Dia seharusnya segera melaporkan Rio, tapi bodohnya dia membiarkan keserakahan menguasainya. Yah, ini menguntungkanku, pikir dingin Rio.

“Cukup. Aku tak segan-segan untuk menyerangmu, mengerti?” Ancam Rio, memegang pisau yang tersembunyi di pinggangnya.

Hak untuk menyerang mengacu pada hukum dimana bangsawan diperbolehkan untuk melukai setiap rakyat biasa yang menghina mereka dimanapun berada dan tanpa pengadilan. Tentu Rio bukanlah bangsawan, tapi karena dia pernah berpakaian bangsawan sampai baru tadi, dia berpikiran mungkin bisa menggunakan kesalahpahaman itu dan segera mengancamnya.

Seperti yang ia prediksi, rasa takut terlintas di mata pria itu.

“H-Hah, Cuma menggertak. Bagaimana kalau aku membuat keributan dan berteriak memanggil prajurit kesini sekarang juga? Kita mungkin ada di luar dinding kota, tapi keamanan disini lumayan, meski tidak banyak mereka masih sedang berpatroli di area ini. Tidak akan ada masalah bagiku kalau mereka datang, tapi kau pastinya akan berada dalam masalah, kan? Ucap Pria itu dengan nada tinggi sembari menyakinkan dirinya sendiri.

“Tak masalah, apa kau ingin mencobanya?” balas Rio yang masa bodo.

“K-Kau yakin?”

“Kamu tidak perlu untuk mengeceknya denganku sebelum kau berteriak. Kita lihat siapa yang akan berada dalam masalah kalau kau melakukannya,” balas Rio dengan ramah, membuat si pria itu mengigit bibirnya. Di hadapan ikan besar ini, pria itu merasa bertentangan dengan keyakinannya sebelumnya.

“… Kalau kau sudah selesai, aku akan pergi sekarang.” Dengan angguna dingin dari ekspresi pria itu, Rio pergi menjauh, menyatu dengan kerumuman orang dan menuju pintu keluar ibukota.

Dia tidak memedulikan sama sekali figur kecil yang mengamatinya dari kejauhan.

◇◇◇

Tiga hari berlalu sejak Rio meninggalkan Ibukota Beltrant.

Dia melanjutkan perjalanannya menuju timur, bertujuan untuk ke wilayah yang jauh, area Yagumo. Dengan munggunakan segenap esensinya untuk meningkatkan kemampuan fisik dan tubuh, dia hampir sampai di negara yang bertetangga dengan Beltrum — Kerajaan Galarc.


Tapi kalau dia melewati jalanan pastinya akan menarik perhatian yang tak diinginkan karena kecepatan supranaturalnya, jadi dia memilih melalui hutan pegunungan sehingga rutenya menjadi lancar: meski kemungkinan bertemu dengan monster dan binatang berbahaya lainnya lebih tinggi yang akibatnya fisik tubuhnya makin lelah. Tapi, Wilayah Beltrum melebar secara horizontal, sedangkan Galarc melebar secara vertikal yang berarti tidak akan membutuhkan banyak waktu untuk keluar dari Beltrum.

Wilayah timur Kerajaan Galarc terdiri dari padang gurun yang luas sehingga di luar kendali manusia. Tidak ada jalan maupun peta yang menggambarkannya, dan medannya berat, jadi Rio memprediksi akan menurunkan kecepatannya sesampainya di titik itu. Sedangkan area Yagumo berada tepat di luar padang gurun, konon berjalan kaki tanpa petunjuk akan menghabiskan setahun untuk keluar. Binantang buas dan monster yang ada di area itu jauh lebih berbahya dibandingkan dengan yang ada di area Strahl, mengakibatkan perjalanannya membahayakan hidupnya. Meski begitu, Rio tetap memilih pergi ke Yagumo — dia ingin melihat kampung halaman leluhur yang diceritakan Ibunya di masa kecilnya, dan mengatur perasaan rumit di dalam hatinya.

Mengesampingkan semuanya untuk saat ini, meski… Saat ini waktu terus berjalan hingga sore. sebentar lagi Rio akan melintasi perbatasan dari Kerajaan Galarc.

Sepertinya aku harus mengecek jalanan sesekali. Mungkin ada kota yang dekat di sekitar dimana aku bisa berhenti, pikirnya memutuskan itu, dia mendekati pohon yang menjulang tinggi di dekatnya, memanjat batangnya dengan sekejap mata. Dari puncak, dia mengamati sekitar dan memperhitungkan posisinya menggunakan matahari. Dia mengalihkan padangannya ke arah yang ingin dia tuju, dan melihat kepulan asap yang membungbung di langit dari kejauhan, jumlah asap yang banyak mengindikasi kalau itu adalah sebuta kota.

Dengan tujuannya sudah diputuskan, Rio turun dari pohon. Ketika dia turun dengan aman, dia mengambil perkiraan lokasi jalanan ke kota dan berlari menujunya. Sembari dia bertemu dengan kumpulan goblin dan orc di perjalannya, dia melewatinya dengan debu hasil dari kecepatan luar biasanya itu. Akan membuang-buang waktu dan energi kalau berurusan dengan mereka seperti orang bodoh, jadi yang dia lakukan hanyalah menghadang sekawanan serigala yang gesit mengepungnya saat ia lewat, sebagai peringatan pada mereka.

Rio dengan cermat menghindari tumbuh-tumbuhan liar yang lebat selagi ia berlari dengan langkah kaki yang ringan. Sekitar sepuluh menit berlalu, dia melihat jalan yang menembus hutan. Dia memperlambat dan menghentakan kakinya ke tanah dengan kuat untuk menghentikan momentumnya dan melompat melewati jalan. Lebar jalannya sekitar sepuluh meter yang muat untuk dilewati kereta kuda. Setelah dia mengecek kalau tidak ada orang di sekitar, dia melanjutkan dengan kecepatan yang tidak akan menimbulkan kecurigaan kalau dia terlihat.

Sekitar antara dua sampai tiga puluh menit kemudian, ia sampai di kota tujuannya.

Jalan masuk ke kota dipenuhi dengan kereta dan pengelana yang berjalan kaki. Rio mengikuti mereka dari belakang sendiri. Tanah di dekat kota di penuhi dengan ladang gandum, sayur-sayuran, kebun anggur, padang rumput dan peternakan; Rio bisa melihat petani bekerja di sana-sini. Beberapa saat kemudian, dinding yang melingkari Kota terlihat.

Kota itu tampaknya masih dalam pembangunan, karena bagian-bagian dindingnya masih ada yang sedang dibangun. Rio bisa melihat beberapa orang yang bekerja keras dengan semangat.

Kuharap status buronanku belum sampai Galarc… Rio mempertimbangkan masalahnya saat ini sembari memandangi orang-orang sedang menjalani kehidupan sehari-hari mereka dari kejahuan.

Saat ini, Beltrum dan Galarc sedang beraliansi.

Kalau kerajaan Beltrum melakukan tindakan di Galarc, maka pastinya poster buron Rio mungkin sudah sah disini.

Dan juga ada satu hal yang perlu diingat: di daerah Strahl, ada artefak kuno yang di kenal sebagai Kapal Udara Sihir. Mereka bisa terbang di udara dengan kecepatan rata-rata 50 knot, jadi mungkin saja pemberitahuan tentang situasinya sudah sampai di Galarc

Aku harus mengecek papan pengumuman di dekat gerbang kota lebih dulu. Kalau tidak ada, aku akan masuk mencari makanan, lalu mengirim surat kepada profesor Celia untuk memberitahunya kalau aku sudah aman… Rio menghitung kegiatannya dengan jarinya.

Dia sedang kekurangan stok makanan saat ini, dan masalah poster buronan di Ibukota membuatnya meninggalkan kerajaan lebih awal, memprioritaskan melarikan diri daripada membeli stok makanan. Itulah kenapa dia harus mengisi persediaannya untuk perjalanan di sini, Kerajaan Galarc sebelum masuk ke padang gurun.

tags: baca novel Seirei Gensouki: Spirit Chronicles Volume 2 Chapter 1 Part 3, web novel Seirei Gensouki: Spirit Chronicles Volume 2 Chapter 1 Part 3, light novel Seirei Gensouki: Spirit Chronicles Volume 2 Chapter 1 Part 3, novel Seirei Gensouki: Spirit Chronicles Volume 2 Chapter 1 Part 3, baca Seirei Gensouki: Spirit Chronicles Volume 2 Chapter 1 Part 3 , Seirei Gensouki: Spirit Chronicles Volume 2 Chapter 1 Part 3 manga, Seirei Gensouki: Spirit Chronicles Volume 2 Chapter 1 Part 3 online, Seirei Gensouki: Spirit Chronicles Volume 2 Chapter 1 Part 3 bab, Seirei Gensouki: Spirit Chronicles Volume 2 Chapter 1 Part 3 chapter, Seirei Gensouki: Spirit Chronicles Volume 2 Chapter 1 Part 3 high quality, Seirei Gensouki: Spirit Chronicles Volume 2 Chapter 1 Part 3 manga scan, ,
Table of Content

Tinggalkan Komentar untuk Dukung Kami!

avatar
  Ikuti  
Notify of